

Di sebuah saung kecil di pedalaman Kabupaten Cianjur. Ada seorang lansia berusia 67 tahun, bernama Abah Maman tengah berbaring lemah. Wajahnya penuh luka yang tak kunjung kering, persendiannya kaku, tubuhnya menyusut drastis. Rasa nyeri tak lagi ia hitung karena sudah setahun ini sakit datang setiap hari.

Abah didiagnosis TBC Tulang dan Sendi (Tuberculosis of Bones and Joints) sejak tahun 2024. Ia seharusnya menjalani pengobatan di RSUD Kabupaten Cianjur dan dirujuk ke rumah sakit provinsi. Namun kenyataan di lapangan jauh lebih kelam dari yang dibayangkan.
Pada Juli 2024, Abah mulai merasakan nyeri hebat dan kaku pada kaki serta tangannya. Ia mengira itu hanya “panyakit kolot” sebutan orang Sunda untuk nyeri badan biasa pada lansia. Jadi Abah menahannya dengan minum herbal seadanya. Kadang membeli obat warung.

Ia tetap bekerja. Tetap memaksa bergerak. Karena dalam hidup Abah, kalau tidak bekerja, tidak makan. Hingga akhirnya rasa sakit itu tak lagi tertahankan. Wajahnya mulai bengkak, muncul benjolan seperti tumor, luka-luka basah tak kunjung kering, tubuhnya semakin hilang tenaga. Butuh 6 bulan bagi Abah untuk akhirnya meminta istrinya membawa ia ke Puskesmas.
Karena masyarakat mendapat info bahwa penyakit Abah mudah menular, Abah memutuskan pergi dari rumah. Ia mengasingkan diri ke saung terpencil, jauh dari warga. Pengobatan terhenti, bukan karena menyerah tetapi karena ia tidak ingin menyusahkan siapapun.
Ia tidak punya HP untuk mengurus JKN Mobile. Tidak punya uang untuk transportasi dan juga tidak kuat berjalan jauh.

Anaknya merantau jauh dengan ekonomi pas-pasan. Istri Abah juga kewalahan merawatnya sendirian. Dan sejak itu, Abah menjalani hari-harinya sendiri. Dengan luka yang terus menganga, rasa nyeri yang tak pernah berhenti ditambah dengan kondisi tubuh yang semakin ringkih…
Sebelum sakit, Abah adalah buruh tani dan penjual kerupuk keliling. Penghasilannya hanya Rp 30.000 - 50.000 itupun tidak setiap hari. Setelah sakit, dagangannya tak laku. Bukan karena kualitas, tetapi karena kondisinya. Ada anak kecil yang bahkan berkata pada Abah “Bah… serem… kayak monster…” Abah hanya tersenyum padahal hatinya hancur.
Beberapa bulan terakhir, Abah diantar menggunakan ambulans oleh relawan. Namun 6 bulan lamanya tidak ada komunikasi. Dikira Abah sudah sembuh. Ternyata saat ditemukan kembali… keadaannya jauh lebih buruk. Ia tak punya siapa-siapa, tak punya biaya, tak punya tenaga. Dan hanya bertahan hidup dengan menjual hasil tani seadanya.
Abah adalah Sosok Baik yang Selalu Ada untuk Warga. Warga sekitar mengenal Abah sebagai Orang yang rajin ke masjid, selalu ikut gotong royong, ringan tangan membantu tetangga, tidak pernah menolak kalau diminta bantuan serta ramah dan sopan.
Warga sudah berupaya membantu dari kas masjid dan iuran, namun tidak mencukupi. Mereka sangat berharap ada uluran tangan untuk menyelesaikan pengobatan Abah sampai tuntas.
Di usia senjanya, Abah seharusnya beristirahat. Namun ia justru menahan sakit yang luar biasa sendirian hanya karena takut merepotkan orang lain. Mari hadir sebagai keluarga yang Abah tidak pernah minta, tetapi sangat ia butuhkan.