

Ada yang lebih menderita, tapi tidak seberisik kita,
Tanpa Ayah, Pagi sekolah, siang cari nafkah, waktu istirahat rawat ibu yang 3 tahun menderita tumor.

"Setiap langkahnya membawa jualan, fikiran Ufaira cuma satu:
“Aku tak mau kehilangan Ibu..."
Di usianya yang baru menginjak kelas 3 SMP, dimana anak-anak sebayanya fokus belajar dan bermain, Ufaira (14 tahun) harus memikul beban berat sejak sang ayah menelantarkan. mengisi aktifitasnya dengan berjualan gorengan demi bisa membantu sang ibu yang terbaring sakit parah sejak 3 tahun lalu karena Tumor Intra Abdomen yang bersarang diperutnya.
Setelah ditinggal sang ayah kini ia hanya memiliki ibunya. Namun ditengah kondisi ekonomi yang menghimpit ditambah kesehatan sang ibu yang kian menurun, tawa ceria khas anak SMP itu pun kian sirna, yang dipikirannya hanya satu “Aku tak mau kehilangan Ibu..." tutur Ufaira dengan mata berkaca-kaca..

Hari demi hari perut sang Ibu terus membesar, dengan rasa sakit yang semakin tajam seperti ditusuk-tusuk. Tubuhnya yang dulu tegar kini makin kurus dan lemah, tertahan beban berat di perutnya.
Kondisinya kian kritis. Dokter menyatakan bahwa tumor ini berisiko sangat tinggi memicu komplikasi fatal bahkan kematian jika tidak segera diobati dan dioperasi.
Melihat ibunya terbaring kesakitan, Ufaira tak Ingin tinggal diam. Menanggalkan rasa malu, ia berkeliling berjualan usai pulang sekolah. tangan kecilnya merapikan dagangan, sambil menyusuri jalanan mulut mungilnya menawarkan jajanan kampung yang ia bawa.
#Sahabat berbagi, waktu Ibu Siti sangat terbatas. Kita tak bisa biarkan seorang anak SMP berjuang sendirian menyelamatkan nyawa ibunya. Mari Dukung Ufa agar bisa memberikan pengobatan terbaik untuk bu Siti
![]()
Belum ada Fundraiser