walaupun kehidupan dan gerak mereka terbatas. itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus melangkkah. Ini bukan tentang siapa mereka, namun tentang tanggung jawab dan beban yang mereka pikul demi keberlangsungan hidup.

Pa Enon (50 tahun) tanpa tangan melakukan reparasi TV hanya dengan kaki. “karena kebutuhan” ucapnya
Kelainan genetik membuat pa Enon terlahir tanpa kedua tangan, postur yang tidak sempurna dan kaki yang pendek. Namun kewajibannya sebagai kepala keluarga tak ia lepaskan, berbekal semangat tersebut ia menjalani kursus service elektronik yang banyak orang meragukan. “kan masih ada kaki, ya pake aja yang ada”

terlahir dengan kelainan genetik langka yang membuat tubuhnya tak sempurna, terlahir tanpa kedua tangan dan kaki Pak Dede (35 tahun) harus rela banting tulang ditengah segala keterbatasannya demi keluarganya bertahan hidup. Ia sehari-hari menggantungkan hidupnya berjualan buku iqro, kitab dan tasbih. bukan pilihan terbaik, tapi hanya itu yang ia bisa lakukan untuk bertahan hidup menafkahi keluarga serta mengurus sang ayah bah Amud (81 tahun), yang menderita sakit dengan kondisi seluruh tubuhnya gatal dan melepuh.

Pa Cecep (48 tahun) jug seorang penyandang disabilitas trelahir tanpa tangan dan kaki. Sehari-hari pak Cecep berjualan asesoris mendorong gerobaknya keliling kampung demi menghidupi keluarga terutama sang anak yang dalam kondisi celebralpalsy.
kebutuhan tidak pernah bisa berkompromi, dengan keadaan yang sangat terbatas ia berjuang dengan 1 keahlian melakukan aktifitas orang normal Hanya dengan kaki.
Melalui penggalangan dana ini, kami mengajak Sahabat Berbagi untuk bantu wujudkan keinginan serta harapan mereka agar bisa menjalani hidup lebih baik lagi dan mengobati anggota keluarga yang sakit dengan mendapatkan perawatan yang intenship.
Baca selengkapnya ▾