

Baru 19 tahun, Nurdin harus kehilangan penglihatan dan kemampuan berjalan setelah kecelakaan kerja. Dua tahun berlalu, pemuda yang dulu bekerja demi membantu keluarganya itu bahkan belum bisa kembali berobat karena ayahnya hanya berpenghasilan Rp30 ribu sehari.

Saat remaja seusianya tengah merajut masa depan, Nurdin justru harus menjalani hari dalam kegelapan dan kelumpuhan. Dua tahun silam, kecelakaan kerja saat ia mencari nafkah sebagai buruh bangunan merenggut banyak hal dari hidupnya. Nurdin kehilangan penglihatan dan tak lagi mampu menggerakkan kedua kakinya.
Pemuda yang dulu rela memeras keringat demi membantu keluarga itu kini hanya bisa terbaring tak berdaya. Masa mudanya berubah dalam sekejap, dan penderitaannya semakin berat karena ia tak mampu melanjutkan pengobatan.
Sejak keluar dari rumah sakit, Nurdin sama sekali belum pernah menjalani kontrol medis karena keterbatasan biaya dan tidak memiliki BPJS. Sementara itu, ayahnya berjuang sebagai buruh tani serabutan dengan penghasilan tak lebih dari Rp30.000 sehari.

Jangankan membiayai pengobatan Nurdin, untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga sehari-hari saja sang ayah harus bersusah payah.
Kondisi mereka semakin berat karena Nurdin dan ayahnya tinggal di rumah yang sangat tidak layak huni, di pelosok yang jauh dari akses kesehatan. Jarak yang jauh membuat ongkos transportasi menuju rumah sakit semakin mahal, sebuah biaya yang sulit dijangkau oleh keluarga dengan penghasilan hanya Rp30 ribu sehari.
Melalui penggalangan dana ini, mari ulurkan tangan Sahabat Berbagi untuk meringankan beban Nurdin. Bantuan yang terkumpul akan digunakan untuk biaya pengobatan, ongkos transportasi dari desa menuju rumah sakit, serta memenuhi kebutuhan harian Nurdin.

Mari bersama-sama hadirkan kembali harapan untuk Nurdin, agar ia bisa mendapatkan pengobatan yang selama dua tahun ini tak mampu ia jalani dan tidak lagi berjuang sendirian dalam kegelapan dan kelumpuhannya.
![]()
Belum ada Fundraiser