

Usianya sudah senja, tubuhnya sudah renta, Nenek Tarsih (66 tahun) dipaksa menjadi tulang punggung demi suaminya yang buta.
[bonding]
Setiap pagi, saat banyak orang seusianya beristirahat di rumah, Nenek Tarsih justru harus melangkah menyusuri jalan membawa roti dagangan. Kaki yang mulai renta tetap ia paksa berjalan, karena hanya dari hasil berjualan keliling itulah ia dan suaminya bisa bertahan hidup. Tak ada hari untuk menyerah, sebab ada seseorang yang menantinya di rumah.

Suami Nenek Tarsih kini mengalami kebutaan dan tidak lagi mampu bekerja. Dahulu mereka saling menguatkan mencari nafkah, namun kini Nenek Tarsih harus memikul seluruh beban keluarga seorang diri. Sepulang berjualan, ia masih harus merawat sang suami, memastikan kebutuhan makan dan kesehariannya terpenuhi di tengah penghasilan yang tak menentu.

Di usia yang seharusnya menjadi masa menikmati hari tua, Nenek Tarsih justru masih berjuang dari pagi dengan penghasilan yang tak pasti, 500 rupiah untuk stiap bungkus yang ia jual, kadang roti yang dibawa tidak habis terjual dan hanya mendapat uang untuk makan alakadarnya sementara kebutuhan lain terus berjalan. Meski lelah, ia tetap bertahan demi sang suami yang hanya bisa mengandalkan dirinya.
Hari ini, kita bisa menjadi bagian dari harapan Nenek Tarsih. Mari ringankan langkahnya dengan berdonasi. Bantuan yang terkumpul akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan perawatan sang suami. Setiap rupiah yang Anda sisihkan dapat membantu seorang nenek pejuang menjalani hari-harinya dengan lebih tenang dan penuh harapan
![]()
Belum ada Fundraiser